Benarkah Tashawwuf Sesat? | Kajian Komunitas Ukhuwwah Muslim Muslimah | 083139794997

083139794997 Kajian Komunitas Ukhuwwah Muslim Muslimah


Hakekat Tashawwuf

Tashawwuf bersumber dari Sunnah Rasulullah. Tuduhan tashawwuf bersumber dari agama lain merupakan tuduhan keji. Kemiripan tidak berkonsekuensi duplikasi. Tashawwuf dirangkum oleh para ulama sesuai pengalaman spiritual personal dan kapasitas keilmuan yang diturun-temuruni dari guru-gurunya. Tashawwuf adalah praktik keberislaman yang mengaksentuasi (mengarusutamakan) keberpasrahan kepada pengaturan Allah.


Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaliyy menjelaskan,

ثُمَّ اِعْلَمْ أَنَّ التَّصَوُّفَ لَهُ خَصْلَتَانِ: الإِسْتِقَامَةُ مَعَ اللهِ تَعَالَى وَالسُّكُوْنُ عَنِ الخَلْقِ. فَمَنْ اِسْتَقَامَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَحْسَنَ خُلُقَهُ مَعَ النَّاسِ وَعَامَلَهُمْ بِالحِلْمِ فَهُوَ صُوْفِيٌّ

“Kemudian ketahuilah bahwa Tashawwuf mempunyai dua pilar: istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluqnya. Maka barangsiapa yang istiqamah bersama Allah Ta’ala memperbaiki akhlaq bersama manusia, dan berinteraksi dengan mereka dengan santun, maka dia adalah seorang Shufiyy”. [Ayyuha Al-Walad halaman 15]


Imam An-Nawawiyy mengungkapkan,

أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية، اتباع السنة في الأقوال والأفعال، الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار، الرضى عن الله في القليل والكثير، الرجوع إِلى الله في السراء والضراء

“Pokok pokok metode ajaran Tashawwuf ada lima: Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluq di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka.” [Risalah Al-Maqashid fi At-Tauhid wa Al-’Ibadah wa Ushul At-Tashawwuf 1/20]


Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy menyampaikan,

تَطْهِيْرُ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ مِنَ الْآثَامِ الخَفِيَّةِ وَالْجَلِيَّةِ مِنْ أَوَائِلِ التَّصَوُّفِ

“Menyucikan batin dan lahir dari dosa-dosa yang tidak jelas dan yang jelas, merupakan awal mula dari Tashawwuf.” [It-haf As-Sadat Al-Muttaqin, [Bairut, Tarikh Al-‘Arabiyy: 1994], juz 8, halaman 477]


Imam Al-Ghazaliyy juga menyebutkan,

فَإِنَّ أَصْلَ طريق الدّينِ القُوْتُ الحلال وعند ذلك يلقنه ذكرا من الأذكار حتى يشغل به لسانه وقلبه فيجلس ويقول مثلا الله الله أو سبحان الله سبحان الله أو ما يراه الشيخ من الكلمات

“Sesungguhnya dasar dari jalan Tashawwuf adalah makanan yang halal, ketika telah terpenuhi, seorang Syaikh hendaknya mengajarkan muridnya salah satu dzikir dari sekian banyak dzikir, sampai lisan dan qalbunya sibuk dengan dzikir tersebut. Semisal seorang murid duduk sambil membaca “Allah… Allah” atau “Subhanallah… Subhanallah” atau kalimat-kalimat dzikir lain sesuai dengan yang diajarkan oleh Syaikh.” [Ihya’ Ulumuddin]


Syaikh ‘Abdurra’uf Al-Munawiyy Asy-Syafi’iyy Al-Khalwatiyy Al-Asy’ariyy menuturkan,

وليس للمسافر إلى الله في سلوكه أنفع من الذكر المفرد القاطع من الأفئدة الأغيار وهو الله وقد ورد في حقيقة الذكر وآثاره وتجلياته ما لا يفهمه إلا أهل الذوق

“Bagi orang yang sedang melakukan perjalanan suluk menuju Allah, tidak ada yang lebih bermanfaat dibandingkan dzikir mufrad yang bisa memutus hubungan dengan makhluq dari dalam qalbu. Dzikir tersebut adalah menyebut “Allah”. Telah dijelaskan, bahwa hakikat dzikir, dampak dan manifestasinya, tidak bisa difahami kecuali oleh orang-orang yang telah merasakannya”. [Faidh Al-Qadir]


Syaikh Ibnu ‘Ajibah mengutarakan,

حُكْمُ الْفِقْهِ عَامٌ لِأَنَّ مَقْصُوْدَهُ إِقَامَةُ رَسْمِ الدِّيْنِ وَرَفْعِ مَنَارِهِ وَإِظْهَارِ كَلِمَاتِهِ وَحُكْمُ التَّصَوُّفِ خَاصٍ لِأَنَّهُ مُعَامَلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ مِنْ غَيْرِ زَائِدٍ

“Hukum fiqih (syariat) sangat umum, karena tujuannya adalah menampakkan potret agama Islam, mengangkat aturannya, dan menampakkan kalimatnya. Sedangkan ilmu Tashawwuf merupakan ilmu yang khusus, karena sesungguhnya, ia merupakan interaksi antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya tanpa perlu menambah.” 

هو أن يُميتَكَ الحقُّ عنك ويُحيِيْك به. وقال أيضا أن تكون مع الله بلا علاقة 

“Bertashawwuf itu adalah kondisi spiritual di mana engkau benar-benar pasrah bahwa hidup dan matimu berada di bawah kendali Allah. Ia juga mengatakan, ‘Saat engkau hidup bertashawwuf, berarti engkau tengah hidup berdampingan langsung dengan Allah tanpa sekat apapun.’” 

والصوفي الصادق أن يفتقر بعد الغنى ويذل بعد العز ويخفى بعد الشهرة 

“Shufiyy sejati selalu merasa butuh (kepada Allah) walau telah kaya raya, selalu merasa hina kendati telah mendapat kemuliaan, dan selalu merasa terpendam meski telah mendapat popularitas tertinggi.” [Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, [Bairut, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah: 2001]]


Sejarah Tashawwuf

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ اﻟﺼُّﻔَّﺔِ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣَﺎ لهم ﺃَﺭْﺩِﻳَﺔٌ 

’’Abu Hurairah berkata "Para sahabat ahlus shuffah (yang berada di pelataran Masjid Nabawi) berjumlah 70 orang. Mereka tidak memiliki selendang.’’ [Al-Mustadrak li Al-Hakim]

 ﻗَﺎﻝَ اﻟْﺤَﺎﻛِﻢُ: ﺗَﺄَﻣَّﻠْﺖُ ﻫَﺬِﻩِ اﻷَْﺧْﺒَﺎﺭَ اﻟْﻮَاﺭِﺩَﺓَ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻞِ اﻟﺼُّﻔَّﺔِ ﻓَﻮَﺟَﺪْﺗُﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻛَﺎﺑِﺮِ اﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﻋًﺎ ﻭَﺗَﻮَﻛُّﻼً ﻋَﻠَﻰ اﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﻣُﻼَﺯَﻣَﺔً ﻟِﺨِﺪْﻣَﺔِ اﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ 

’’Al-Hakim berkata "Setelah saya pikirkan hadits-hadits yang menjelaskan Ahlus Shuffah ternyata saya temukan mereka adalah para sahabat besar, baik wira’iyy (menjauhi hal-hal haram dan syubhat), tawakkal kepada Allah, terus menerus melayani Rasulullah.’’

ﻭَﻫُﻢُ اﻟﻄَّﺎﺋِﻔَﺔُ اﻟْﻤُﻨْﺘَﻤِﻴَﺔُ ﺇِﻟَﻴْﻬُﻢُ اﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻗَﺮْﻧًﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﻗَﺮْﻥٍ، ﻓَﻤَﻦْ ﺟَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻨَّﺘِﻬِﻢْ ﻭَﺻَﺒْﺮِﻫِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﺮْﻙِ اﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَاﻷُْﻧْﺲِ ﺑِﺎﻟْﻔَﻘْﺮِ، ﻭَﺗَﺮْﻙِ اﻟﺘَّﻌَﺮُّﺽِ ﻟِﻠﺴُّﺆَاﻝِ ﻓَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻋَﺼْﺮٍ ﺑِﺄَﻫْﻞِ اﻟﺼُّﻔَّﺔِ ﻣُﻘْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺧَﺎﻟِﻘِﻬِﻢْ ﻣُﺘَﻮَﻛِّﻠُﻮﻥَ» 

’’Mereka ini adalah sekelompok golongan yang orang-orang Shufiyy menisbatkan diri kepada mereka dari masa ke masa. Barangsiapa yang berperilaku seperti ajaran mereka, kesabaran untuk meninggalkan dunia, merasa nikmat dengan kefaqiran dan tidak meminta-minta/mengemis, maka mereka ini adalah pengikut Ahlus Shuffah. Dan mereka bertawakkal kepada Allah.” [Al-Mustadrak li Al-Hakim]


وَقَدْ دُوِّنَتِ الْعُلُومُ الْمَنْقُولَةُ وَسُمِّيَتْ بِأَسْمَاءٍ وَمُصْطَلَحَاتٍ: فَسُمِّيَ مَنِ اشْتَغَلَ بِالْحَدِيثِ الشَّرِيفِ مُحَدِّثًا، وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالتَّفْسِيرِ مُفَسِّرًا، وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالْفِقْهِ فَقِيهًا، وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالتَّرْبِيَةِ وَالسُّلُوكِ فِي طَرِيقِ اللَّهِ صُوفِيًّا 

“Dan berbagai ilmu yang dinukil (dari Nabi dan sahabat) telah dikodifikasi dan dinamai dengan berbagai nama dan istilah, maka orang yang mendalami hadits disebut muhaddits, orang yang mendalami tafsir disebut mufassir, orang yang mendalami fiqih disebut faqih, dan orang yang mendalami pendidikan spiritual (tarbiyah) serta perjalanan ruhani (suluk) di jalan Allah disebut shufiyy (ahli tashawwuf).” [Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyyah fi Bayan Adillat Ash-Shufiyyah, [Damaskus: Dar Taqwa, 2003], halaman 20].


وَأَوَّلُ مَنْ تُسُمِّيَ بِالصُّوفِيِّ هُوَ أَبُو هَاشِمٍ الَّذِي وُلِدَ فِي الْكُوفَةِ. وَأَنَّ أَوَّلَ مَنْ حَدَّدَ نَظَرِيَّاتِ التَّصَوُّفِ وَشَرَحَهَا هُوَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ، تِلْمِيذُ الْإِمَامِ مَالِكٍ. وَالَّذِي شَرَحَهَا وَبَوَّبَهَا وَنَشَرَهَا هُوَ الْجُنَيْدُ الْبَغْدَادِيُّ 

“Orang pertama yang disebut shufiyy adalah Abu Hasyim yang dilahirkan di Kufah. Dan orang pertama yang merumuskan dan menjelaskan teori-teori tashawwuf adalah Dzun Nun Al-Mishriyy, murid Imam Malik. Sedangkan orang yang menjelaskan, menyusun bab-babnya, dan menyebarluaskannya adalah Imam Al-Junaid Al-Baghdadiyy.” [Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyyyah fi Bayan Adillat Ash-Shufiyyah, [Damaskus: Dar At-Taqwa, 2003], halaman 23]



Proliferasi Tashawwuf

Syaikh At-Taftazaniyy menjelaskan,

رأينا في الفصل السابق اتجاهين متميزين للتصوف عند صوفية القرنين الثالث والرابع، أحدهما سُنّي يَتَقَيَّدُ أصحابه فيه بالكتاب والسنة، ويربطون أحوالهم ومقاماتهم بهما، والآخر شِبْه فلسفي، ينزع أصحابه فيه إلى الشطحات، وينطلقون من حال الفناء إلى إعلان الاتحاد أو الحلول. 

“Kita telah melihat pada bab sebelumnya adanya dua kecenderungan yang berbeda dalam dunia tashawwuf pada kalangan shufiyy abad ketiga dan keempat Hijriah. Pertama, tashawwuf yang bercorak sunni, yaitu tashawwuf yang para pengikutnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta mengaitkan seluruh keadaan batin (ahwal) dan tingkatan spiritual (maqamat) mereka dengan keduanya. Kedua, tashawwuf yang bersifat semi-filosofis, yaitu tashawwuf yang para penganutnya cenderung melakukan ungkapan-ungkapan syathahat, dan dari keadaan fana  mereka beralih kepada pengakuan tentang penyatuan (ittihad) atau penyusupan Tuhan ke dalam diri makhluk (hulul).” [Al-Madkhal ila At-Tashawwuf Al-Islamiyy, [Kairo Mesir, Dar Ats-Tsaqafah: 1979], halaman 145]

Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-’Ajibah Al-Hasaniyy menjelaskan,

فالشريعة هي : إصلاح الجوارح الظاهرة، وهي تدفح إلى الطريقة التي هي إصلاح السرائر الباطنة، وهي أيضاً تدفح إلى الحقيقة التي هي كشف الحجاب ومشاهدة الأحباب من داخل الحجاب، فالشريعة أن تعيده، والطريقة أن تقصده، والحقيقة أن تشهده

Syari’ah adalah memperbaiki organ-organ tubuh secara lahir dan syariah merupakan jalan menuju thariqah, yang mana thariqah merupakan perjalanan ruhani untuk memperbaiki batiniyyah, dan thariqah merupakan pengantar menuju hakikat yang dapat menyingkap tabir penghalang (kasyf hijab) dan musyahadah (menyaksikan) dengan kekasih. Pendek kata syariah adalah beribadah menghamba kepada-Nya, sedangkan thariqah adalah menjadikan Allah satu-satunya tujuan dan hakikat merupakan kemampuan menyaksikan Allah dengan mata batinnya. [Al-Futuhat Al-Ilahiyyah fi Syarh Al-Mahabits Al-Ashaliyyah]

Syaikh ‘Abdul-Wahhab Asy-Sya’raniyy mengutarakan,

وربما تكلم العارف في نظمه أو غيره على لسان الحق تبارك وتعالى، وربما تكلم على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وربما تكلم على لسان القطب. فيظن بعضهم على لسانه هو فيبادر إلى الإنكار 

“Terkadang, ahli makrifat dalam nazham atau bentuk ekspresi lainnya berbicara dengan bahasa ilahi. Terkadang ia berbicara dengan bahasa rasul-Nya. Ia juga terkadang berbicara dengan bahasa wali quthub. Tetapi sebagian orang mengira ahli makrifat itu berbicara dengan bahasanya sendiri sehingga segera mendapat pengingkaran.”

فافهم وربما أنكر العالم على بعض الصوفية في بعض الأوقات رحمة بالعوام والمحجوبين خوفا أن يتبعوه في ذلك الأمر بالجهل فيهلكون لا ردا على ذلك الصوفي بالكلية  

“Ketahuilah, ulama juga terkadang ikut mengingkari bahasa para shufiyy sebagai bentuk kasih sayang terhadap orang awam dan mereka yang terhijab secara spiritual karena khawatir mereka mengikuti kalimat tersebut secara jahil sehingga mereka binasa, bukan karena penolakan secara keseluruhan terhadap kalimat shufiyy tersebut,”

واعلم أن من صفات المحبين أنهم يتكلمون بلسان المحبة والعشق والسكر لا بلسان العلم والعقل والتحقيق 

“Ketahuilah, salah satu sifat muhibbin adalah mereka berbicara dengan bahasa mahabbah, isyq, dan mabuk cinta, bukan bahasa ilmu, akal, dan tahqiq.” [Al-Minan Al-Kubra/Lathaif Al-Minan fi Al-Akhlaq fi Wujub At-Tahadduts bi Nikmatillah ‘ala Al-Ithlaq, [Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah: 2010 M]]

Abu Yazid Al-Bisthamiyy pernah bersya’ir,

أشار سري اليك حتى فنيت عني ودمت أنت 

محوت إسمي ورسم جسي سألت عني فقلت أنت 

Kesadaran batinku menunjuk kepada-Mu. Sehingga Aku menghilang dari diriku, dan hanyalah Engkau yang ada. Engkau menghapus namaku dan jejak tubuhku. Engkau bertanya tentang diriku, aku jawab: Engkau. [Syathahat Asy-Shufiyyah li ‘Abdurrahman Badawiyy]


Oleh Ust. H. Brilly Y. Will., M.Pd. (Founder www.asmaulhusna.or.id)

Comments