Doa Menakjubkan dari Qalbu yang Suci: Wahai Dzat yang Tidak Dapat Dilihat Mata | Brilly El-Rasheed | 082140888638





أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم مرَّ بأعرابيٍّ وهو يدعو في صلاتِه وهو يَقُوْلُ يَا مَنْ لَا تَرَاهُ الْعُيُوْنُ وَلَا تُخَالِطُهُ الظُّنُوْنُ وَلَا يَصِفُهُ الْوَاصِفُوْنَ وَلَا تُغيِّرُهُ الْحَوَادِثُ وَلَا يَخْشَى الدَّوَائِرَ يَعْلَمُ مَثَاقِيْلَ الْجِبالِ وَمَكَايِيْلَ الْبِحَارِ وَعَدَدَ قَطْرِ الْأَمْطارِ وَعَدَدَ وَرَقِ الْأَشْجَارِ وَعَدَدَ مَا أَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ وَأَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارُ لَا تُوَارِيْ مِنْهُ سَمَاءٌ سَمَاءً وَلَا أَرْضٌ أَرْضًا وَلَا بَحْرٌ مَا فِيْ قَعْرِهِ وَلَا جَبَلٌ مَا فِيْ وَعْرِهِ اِجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِيْ آخِرَهُ وَخَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِمَهُ وَخَيْرَ أَيَّامِيْ يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيْهِ فوكَّل رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بالأعرابيِّ رجُلًا فقال إذا صلَّى فائتِني به فلمَّا صلَّى أتاه وقد كان أُهدِيَ لرسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذَهَبٌ مِن بعضِ المعادِنِ فلمَّا أتاه الأعرابيُّ وهَب له الذَّهبَ وقال ممَّن أنتَ يا أعرابيُّ قال مِن بني عامرِ بنِ صَعْصَعةَ يا رسولَ اللهِ قال هل تدري لِمَ وهَبْتُ لكَ الذَّهبَ قال للرَّحِمِ بَيْنَنا وبَيْنَكَ يا رسولَ اللهِ فقال إنَّ للرَّحِمِ حقًّا ولكِنْ وهَبْتُ لكَ الذَّهبَ لِحُسْنِ ثنائِكَ على اللهِ عزَّ وجلَّ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang Arab Badui yang sedang berdoa dalam shalatnya seraya mengucapkan, “Wahai Dzat yang tidak dapat dilihat oleh mata, yang tidak dapat dijangkau oleh sangkaan, yang tidak dapat dideskripsikan oleh para pendeskripsinya, yang tidak berubah oleh berbagai peristiwa, dan yang tidak takut terhadap pergiliran keadaan; Dia mengetahui berat timbangan gunung-gunung, takaran lautan, jumlah tetesan hujan, jumlah daun pepohonan, dan jumlah segala sesuatu yang dinaungi oleh malam dan disinari oleh siang; tidak ada satu langit pun yang dapat menutupi langit lainnya dari-Nya, tidak pula satu bumi pun menutupi bumi lainnya dari-Nya, tidak pula lautan menutupi apa yang ada di dasarnya dari-Nya, dan tidak pula gunung menutupi apa yang ada di lerengnya dari-Nya; jadikanlah akhir umurku sebagai umurku yang terbaik, akhir amalanku sebagai amalan yang terbaik, dan hari terbaikku adalah hari ketika aku berjumpa dengan-Mu,” lalu Rasulullah ﷺ menugaskan seseorang untuk memperhatikan orang Badui tersebut dan bersabda, jika ia telah selesai shalat maka bawalah ia kepadaku; setelah orang Badui itu selesai shalat, ia pun datang menghadap, sementara Rasulullah ﷺ ketika itu telah diberi hadiah emas dari sebagian tambang, maka ketika orang Badui itu datang beliau memberikan emas tersebut kepadanya dan bersabda, “Dari kabilah manakah engkau wahai orang Badui?” Ia menjawab, “Dari Bani ‘Amir bin Sha‘sha‘ah wahai Rasulullah,” lalu beliau bersabda, “Apakah engkau mengetahui sebab aku memberimu emas ini?” Ia menjawab, “Karena hubungan kekerabatan yang ada antara kami dan engkau wahai Rasulullah,” maka beliau bersabda, “Sesungguhnya kekerabatan itu memiliki hak, akan tetapi aku memberimu emas ini karena bagusnya pujianmu kepada Allah.”


Rasulullah (shallallahu ’alayhi wa sallam) passed by a Bedouin while he was supplicating in his salah saying, “O You whom no eyes have seen, no mind can comprehend, no describer can depict, and no effect can change, He who fears not from the change of events. He knows the weight of the mountains, the measure of the oceans, the count of rain drops, the number of leaves on the trees, the amount of things which are concealed by night, and those things upon which the sun shines. Nothing is concealed from Him; not the Heavens, nor the Earth, nor the seas and their deep corners, nor the mountains and their pathless terrain; [I ask] that you make the end of my life the best part, my last deeds the best ones and that you make the best of days the day in which I meet you.” Thereafter Rasulullah (sallallahu ’alayhi wa sallam) sent someone to fetch him saying, “When he finishes praying bring him to me.” When he finished praying, he brought him. Rasulullah (sallallahu ’alayhi wa sallam) had been given some gold as a gift, so when the bedouin came he (shallallahu ’alayhi wa sallam) gave it to him. The Messenger of Allah (shallallahu ’alayhi wa sallam) said, “O bedouin, where are you from?” He replied “From Bani ‘Amir ibn Sasa’ah, O Messenger of Allah”. He (shallallahu ’alayhi wa sallam) said, “Do you know why I gave you this gold?” He said, “because of the lineage between us O Messenger of Allah”. Rasulullah (sallallahu ’alayhi wa sallam) said, “Lineage has its rights but I gave you this gold because of your wonderful praising of Allah”.


رواه في مجمع الزوائد ومنبع الفوائد، کتاب الأدعية، باب فيما يستفتح به الدعاء من حسن الثناء على الله سبحانه والصلاة على النبي محمد صلى الله عليه وسلم، رقم الحدیث:17267، ج:10،7، ص:157 ط:مکتبۃ القدسي القاهرۃ

و قال محمد حافظ بن سوروني في مدونته الالكترونية رواه الطبراني في معجمه الأوسط رقم 9448، وقال: لم يرو هذا الحديث عن حميد إلا هشيم تفرد به الأذرمي، وقال الهيثمي: ورجاله رجال الصحيح غير عبدالله بن محمد أبو عبدالرحمن الأذرمي وهو ثقة. وثقه النسائي وأبو حاتم وهو شيخهما، وقد روى عنه أيضا ثلة من كبار العلماء منهم أبو داود و أبو يعلى الموصلي وموسى بن هارون وابن المنادى وحرب الكرماني وعبد الله بن أحمد وآخرون. وهشيم بن بشير ثقة ثبت كثير الإرسال والتدليس الخفي. وحميد الطويل ثقة مدلس، يدلس عن أنس. وروى أبو الشيخ في العظمة 109، عن سعيد الأزرق قال: دخلت مكة ليلا، فبدأت بالمسجد، ودخلت الطواف، فبينا أنا أطوف إذ أنا بامرأة في الحجر رافعة يديها ملتزمة البيت، قد علا تسبيحها، فدنوت منها، وهي تقول: يا من لا تراه العيون ... بنحو دعاء الأعرابي. قال الفقير: والذي ضعف الحديث يعتمد على احتمالات ولا حجة فيها إلا بالدليل الصريح. فإسناد الحديث حسن إن شاء الله

It was narrated in Majma‘ Az-Zawā`id wa Manba‘ Al-Fawā`id, in the Book of Supplications, the chapter on opening supplication with excellent praise of Allah and sending blessings upon the Prophet Muhammad ﷺ, hadith number 17267, volume 10/7, page 157, published by Maktabat Al-Qudsiyy, Cairo. Mohd Khāfidẓ bin Soronī stated on his blog that it was also narrated by Al-Ṭabarānī in Al-Mu‘jam Al-Awsaṭ, hadith number 9448, and he said that this hadith was not narrated from Ḥumayd except by Hushaym, and that Al-Azramiyy was alone in narrating it. Al-Haythamiyy said that its narrators are the narrators of Ṣaḥīḥ, except for ‘Abdullah bin Muhammad Abū ‘Abd Al-Raḥmān Al-Azramiyy, who is trustworthy; he was declared trustworthy by Al-Nasā`iyy and Abū Ḥātim, and he was their shaykh, and a number of senior scholars also narrated from him, among them Abū Dāwūd, Abū Ya‘lā al-Mawṣilīyy, Mūsā bin Hārūn, Ibn Al-Munādā, Ḥarb Al-Karmānīyy, ‘Abdullah bin Aḥmad, and others. Hushaym bin Bashīr is trustworthy and reliable, though known for frequent irsāl and subtle tadlīs, and Ḥumayd A-Ṭawīl is trustworthy but a mudallis, who practiced tadlīs from Anas. Abū Al-Shaykh also narrated in Al-‘Aẓamah (no. 109) from Sa‘īd Al-Azraq, who said that he entered Makkah at night, began with the Masjid, and entered ṭawāf, and while he was circumambulating he saw a woman in Al-Ḥijr, raising her hands and clinging to the House, her tasbīḥ having risen in volume, so he drew near to her and she was saying, “O You whom eyes cannot see …” in words similar to the supplication of the Bedouin. The humble author says that those who weaken this hadith rely on mere possibilities, and there is no proof for that except with clear, explicit evidence; therefore, the chain of this hadith is ḥasan, Allah willing.

Hadits ini diriwayatkan dalam Majma‘ Az-Zawā`id wa Manba’ Al-Fawā`id, Kitab Doa-doa, pada bab tentang membuka doa dengan pujian yang baik kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, nomor hadits 17267, jilid 10/7, halaman 157, terbitan Maktabah Al-Qudsiyy, Kairo. Mohd. Khāfidẓ bin Soronī menyebutkan dalam blognya bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Aṭh-Ṭhabarānīyy dalam Al-Mu‘jam Al-Ausaṭh nomor 9448, dan ia mengatakan bahwa hadits ini tidak diriwayatkan dari Ḥumaid kecuali oleh Husyaim, serta Al-Adzramiyy menyendiri dalam periwayatannya. Al-Haitsamiyy berkata bahwa para perawinya adalah para perawi kitab Ṣhaḥīḥ, kecuali ‘Abdullah bin Muhammad Abū ‘Abdurraḥmān Al-Azramiyy, yang merupakan perawi tsiqah; ia telah ditatsiq oleh An-Nasā`iyy dan Abū Ḥātim—dan ia adalah guru keduanya—serta sejumlah ulama besar juga meriwayatkan darinya, di antaranya Abū Dāwūd, Abū Ya‘lā Al-Mauṣhilīyy, Mūsā bin Hārūn, Ibnu Al-Munādā, Ḥarb Al-Karmānīyy, ‘Abdullah bin Aḥmad, dan selain mereka. Husyaim bin Bashīr adalah perawi tsiqah dan tsabat, meskipun dikenal banyak melakukan irsāl dan tadlīs khafiyy, sedangkan Ḥumaid Aṭh-Ṭhawīl adalah perawi tsiqah namun mudallis yang melakukan tadlīs dari Anas. Abū Asy-Syaikh juga meriwayatkan dalam kitab al-‘Aẓhamah nomor 109 dari Sa‘īd Al-Azraq, ia berkata bahwa ia memasuki Makkah pada malam hari, lalu memulai dengan Masjidil Haram dan melakukan thawaf, dan ketika ia sedang thawaf ia melihat seorang perempuan di area Al-Ḥijr dengan kedua tangannya terangkat sambil melekat pada Ka‘bah, suaranya dalam bertasbih terdengar jelas, maka ia mendekatinya dan perempuan itu sedang mengucapkan, “Wahai Dzat yang tidak dapat dilihat oleh mata …” dengan lafazh doa yang serupa dengan doa orang Arab Badui tersebut. Penulis yang faqir ini menyatakan bahwa orang-orang yang melemahkan hadits ini hanya bersandar pada kemungkinan-kemungkinan semata, dan tidak ada hujjah yang shahih kecuali dengan dalil yang tegas dan jelas; oleh karena itu, sanad hadits ini berstatus hasan, in sya Allah.


قال الشيخ الأستاذ الدكتور عبد الكريم بن عبد الله الخضير من علماء السعودية (اللهم يا مَن لا تراه العيون)، إن كان قصده في الدنيا فكلامه صحيح، فلن يرى الله أحد حتى يموت، وجاء في قوله -جل وعلا-: {لَنْ تَرَانِي} [الأعراف: 143] يعني: في الدنيا، أما في الآخرة فالمؤمنون يرون ربهم. (ولا تخالطه الظنون)، كيف لا تخالطه الظنون؟ يعني: كما قال الطحاوي: (لا تبلغه الأوهام ولا تدركه الأفهام). (ولا يصفه الواصفون)، كيف لا يصفه الواصفون؟ الواصفون ممن يؤمن بما جاء عن الله -سبحانه وتعالى- وعن رسوله -صلى الله عليه وسلم- من أسماء وصفات، يصفونه بها، فالواصفون يصفونه بما جاء عنه تعالى في كتابه، وعلى لسان نبيه -عليه الصلاة والسلام-، فهو موصوف بما ثبت عنه من الصفات، فهذا الكلام ليس بصحيح. وإن كان المراد بـ(لا يصفه) أي: لا يعلم حقيقته وكُنْه صفاته، بمعنى: يصفه بحيث كأنه يراه، فنعم؛ لأنه لا يُدرِك حقيقة هذه الصفة وكُنْه هذه الصفة وكيفية هذه الصفة أحد، إنما يوصف بأنه سميع، عليم، بصير، له يد، وله عين...إلى آخر الصفات. المقصود أن ما ثبت عن الله سبحانه، وعن رسوله -عليه الصلاة والسلام- من أسماء وصفات، يجب الإيمان به، وإثباته لله -عز وجل-، وإن لم نُدرك الكيفية.


Syaikh Prof. Dr. ‘Abdul-Karim bin ‘Abdullah Al-Khudhair, salah seorang ulama Arab Saudi, berkata tentang ungkapan doa “Allahumma yaa man la tarahu al-‘uyun”, jika yang dimaksud adalah di dunia maka ucapan itu benar, karena tidak seorang pun akan melihat Allah sebelum ia meninggal dunia, dan Allah berfirman, “Lan taraanii” [QS. Al-A‘raaf:143], yakni maksudnya di dunia, adapun di akhirat maka orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka; adapun ucapan “wa laa tukhalithuhu azh-zhunun”, bagaimana mungkin sangkaan dapat mencampuri-Nya, maksudnya sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thahawiyy, “tidak dapat dijangkau oleh khayalan dan tidak dapat dicapai oleh akal”; dan ucapan “wa aa yashifuhu Al-washifun”, bagaimana mungkin para pemberi sifat tidak dapat menyifati-Nya, padahal para pemberi sifat yang beriman kepada apa yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan dari Rasul-Nya ﷺ berupa nama-nama dan sifat-sifat, mereka menyifati-Nya dengan apa yang datang dari-Nya dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Nabi-Nya ﷺ, sehingga Allah memang disifati dengan sifat-sifat yang telah tetap dari-Nya, maka ungkapan ini tidak benar apabila dipahami secara mutlak; namun jika yang dimaksud dengan “tidak dapat disifati” adalah bahwa hakikat, inti, dan hakikat terdalam dari sifat-sifat-Nya tidak dapat diketahui, yakni seseorang menyifati-Nya seakan-akan ia melihat-Nya secara langsung, maka hal itu benar, karena tidak seorang pun mampu mengetahui hakikat, inti, dan bagaimana sifat tersebut, melainkan hanya menetapkan bahwa Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Melihat, memiliki tangan, memiliki mata, dan seterusnya dari seluruh sifat yang telah ditetapkan, sehingga kesimpulannya adalah bahwa segala nama dan sifat yang telah tetap dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan dari Rasul-Nya ﷺ wajib diimani dan ditetapkan bagi Allah meskipun kita tidak mengetahui bagaimana hakikat dan kaifiyatnya.


Shaykh Prof. Dr. ‘Abd Al-Karim bin ‘Abdullah Al-Khudayr, one of the scholars of Saudi Arabia, commented on the supplication “Allahumma ya man la tarāhu al-‘uyūn,” saying that if what is meant is in this worldly life, then the statement is correct, because no one will see Allah before death, as Allah says, “Lan tarānī” [QS. Al-A‘rāf:143], meaning in this world; whereas in the Hereafter, the believers will indeed see their Lord. As for the phrase “wa lā tukhāliṭuhu aẓ-ẓunūn,” meaning that assumptions do not intermingle with Him, this is understood in the sense stated by Al-Ṭaḥāwiyy, “that imaginations cannot encompass Him and intellects cannot fully grasp Him.” Regarding the phrase “wa lā yaṣifuhu al-wāṣifūn,” how can it be said that those who describe Him cannot describe Him, when those who believe in what Allah Most High and His Messenger ﷺ have conveyed regarding the Divine Names and Attributes do in fact describe Him by what has been authentically affirmed in the Qur’an and the Sunnah, so Allah is described by the attributes that are established about Him; thus, taken absolutely, this wording would not be correct. However, if what is meant is that no one can truly comprehend the reality, essence, and exact nature of His attributes—as if describing Him in a way that implies full perception—then this meaning is sound, because no one can grasp the true reality or modality of His attributes; rather, we affirm that He is All-Hearing, All-Knowing, All-Seeing, that He has a Hand, that He has an Eye, and so on, as they have come in revelation, without delving into how. The point is that whatever Names and Attributes have been authentically established from Allah and from His Messenger ﷺ must be affirmed and believed in for Allah, even though we do not comprehend their exact nature or how they are.

[https://www.shkhudheir.com/1586325503]


Ustaz Dr. Mohd. Khafidz bin Soroni, Selangor, Malaysia menjelaskan,

- Apa yang diucapkan oleh Arab badwi berkenaan adalah ilham yang dikurniakan oleh Allah SWT kepadanya. Ilham ucapan doa Arab badwi tersebut telah diiyakan oleh Rasulullah s.a.w. dan baginda merasa takjub dengannya, malah baginda mengganjarinya dengan ganjaran yang lumayan kerana kandungan maknanya yang bagus dan susunan ayatnya yang baik. Peristiwa ini turut menunjukkan bahawa sebahagian sahabat Nabi s.a.w. berpendapat bahawa doa itu tidak semestinya dengan apa yang diajar atau disampaikan oleh baginda s.a.w. semata-mata, malah harus juga berdoa atau bermunajat dengan apa yang dilhamkan oleh Allah SWT. Bahkan tidak ada dalil bahawa Nabi s.a.w. menyuruh supaya berdoa dengan apa yang warid sahaja, atau Nabi s.a.w. melarang dari berdoa dengan doa yang tidak warid daripadanya. Berdoa dengan doa-doa yang warid itu hanya dikira sebagai afdal berbanding dengan doa-doa yang tidak warid.

- Meskipun doa Arab badwi tersebut datang daripada ilhamnya, namun ia menjadi sunnah setelah pengakuan (taqrir) Nabi s.a.w. kerana pengakuan baginda itu adalah termasuk dalam definisi sunnah. Namun, Nabi s.a.w. tidak melarang Arab badwi tersebut supaya jangan lagi berdoa dengan doa-doa yang datang daripada ilhamnya. Hal yang sedemikian rupa juga terdapat dalam riwayat hadis-hadis yang lain. Berdasarkan dalil-dalil yang banyak, antaranya hadis ini, al-’Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani menyebut dalam kitabnya (أهل الحق العارفون بالله) satu topik tentang keharusan berdoa dengan apa yang diilhamkan oleh Allah kepada hamba-Nya dan ia diharuskan oleh syariat (hal. 242). Ini merupakan hujah keharusan bagi mengamalkan doa-doa dan awrad-awrad yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada imam-imam ahli sufi. Antara istilah-istilah yang digunakan dalam disiplin kesufian ialah seperti wirid, awrad, hizib, wazifah dan ratib. Malah kebanyakan awrad-awrad tersebut adalah dipetik daripada al-Quran dan hadis. Antara tujuannya adalah sebagai latihan kerohanian untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

- Sesuatu ilham itu perlu ditimbang dan diukur menurut neraca al-Quran dan sunnah. Jika ia tidak melanggar syarak atau tidak terkeluar daripadanya, maka ilham itu dihukumkan harus. Namun jika sebaliknya pula, maka ia mesti disingkir dan ditinggalkan serta-merta. Para sahabat Nabi s.a.w. tidak sukar berbuat demikian kerana mereka hidup di zaman penurunan wahyu dan hidup bersama-sama Rasulullah s.a.w. yang boleh membimbing dan menunjuk ajar mereka. Baginda dapat mengawal dan membetulkan apa-apa yang tidak kena di kalangan umatnya pada masa itu. Namun kini, Rasulullah s.a.w. sudah tiada lagi dan baginda hanya meninggalkan kepada kita al-Quran dan sunnahnya. Justeru, semua masalah perlu dirujuk kepada al-Quran dan sunnah supaya tidak terkeluar dari petunjuk kedua-duanya. Merujuk kepada al-Quran dan sunnah bererti kita memastikan apa yang diperintah dan yang tidak diperintah, apa yang dilarang dan yang tidak dilarang, apa yang diharuskan dan yang tidak diharuskan, dan sebagainya. Menggunakan usul al-fiqh untuk merujuk kepada al-Quran dan sunnah merupakan manhaj para salaf serta kaedah yang paling tepat yang telah dibangunkan oleh para ulama.

- Para sahabat Nabi s.a.w. adalah orang yang paling jauh melakukan bidaah. Sesiapa yang menyelidiki dan meneliti khabar-khabar mawquf dan riwayat-riwayat para sahabat RA akan mendapati bahawa bidaah yang mereka fahami adalah mengadakan perkara baharu yang bercanggah dengan syarak dan tidak ada asalnya di dalam nas umum atau khusus, serta tidak ada sebarang hujah yang menyokongnya. Kebiasaannya ini adalah dalam perkara-perkara usul (pokok). Adapun perkara baharu yang tidak bercanggah dengan syarak dan ada asalnya di dalam nas umum atau khusus sebagai hujah yang menyokongnya, maka ia tidak dianggap sebagai maksud bidaah yang ditegah oleh Nabi s.a.w. Kebiasaannya ini adalah dalam perkara-perkara furu’ (cabang). Sila rujuk antara lain kitab (السنة والبدعة) oleh al-Habib ‘Abdullah bin Mahfuz al-Haddad (hal. 121-168). Di kalangan sahabat Nabi s.a.w. juga ada yang bersikap agak tegas dan ada yang bersikap sedikit longgar, maka merumuskan definisi bidaah berdasarkan konsep ketegasan semata-mata adalah kurang mantap. Namun, ketegasan itu perlu dalam menjaga kemuliaan dan kehormatan syarak.

[https://sawanih.blogspot.com/2011/09/ilham-rabbani-dan-awrad-sufiyyah.html]


Baca artikel terkait Boleh Berbuat Bid'ah Hasanah dalam Shalat (Fatwa Direktur Badan Riset Darul-Ifta Mesir di UAC)



Oleh Ust. H. Brilly Y. Will. El-Rasheed, S.Pd., M.Pd., C.Ed.

(Founder www.asmaulhusna.or.id, Penyusun Lebih dari 30 Naskah Master Mushaf yang masing-masing diterbitkan rata-rata hampir 100.000 eksemplar, dan Penulis 242 Buku Keislaman)




 

Comments