Tarekat dalam Islam Ada Lebih dari 360 | Brilly El-Rasheed | 082140888638

Salafi RII Rodja Ihyaut Turots Yufid Firanda Syafiq Khalid Yazid Jawas Amir Abdat Utsaimin Bin Baz Albani Fauzan Riyadh Bajrey Oemar Mita Aa Gym Das’ad Latif Subhan Bawazier Nuzul Dzikry Abduh Tuasikal Erwandi Mubarok Bamualim Badrusalam Aris Munandar Sufyan Fuad Sofyan Chalid Ruray Mufy Hanif Andy Fahmi Najmi Umar Bakkar Musyaffa Addariny Amrullah Akandhita Ali Musri Semjan Abu Qatadah Elvi Syam Ammi Nur Baits Syahrul Fatwa Raehanul Bahraen Fariq Gasim Anuz Farhan Abu Furaihan Harits Abu Naufal Tanthawi


Jelajah ilmu yang serius pasti menghasilkan kesadaran atas kebhinnekaan. Penulis (Brilly) kerap memverbalkan, “Islam adalah satu-satunya agama yang benar tapi kebenaran dalam Islam bisa jadi tidak hanya satu.” Allah tidak pernah melarang implementasi Islam secara beragam. Allah hanya mensyaratkan keberislaman yang reflektif pada keberislaman Rasulullah dan generasi Salaf. Keberislaman kerap harus menyesuaikan zaman, medan, demografi, geografi, politik, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Islamnya tetap.


Keberislaman biasa dibahasakan dengan madzhab (aliran), thariqah (tarekat), harakah (pergerakan/movement). Umat Islam sejak era Nabi hingga era disrupsi masa kini sangat bervariasi dalam mengekspresikan Islam alias dalam berislam. Islamnya tetap. Islam tidak beralterasi namun menyediakan alternatif-alternatif keberislaman yang ramah terhadap kondisi masing-masing pemeluk Islam baik mikro maupun makro.


Imam Asy-Sya’raniyy dalam Al-Mizan Al-Kubra mengutip hadits,

فَقَدْ رَوَى الطَّبَرَانِيُّ مَرْفُوعًا أَنَّ شَرِيعَتِي جَاءَتْ عَلَى ثَلَاثِمِائَةٍ وَسِتِّينَ طَرِيقَةً مَا سَلَكَ أَحَدٌ طَرِيقَةً مِنْهَا إِلَّا نَجَا انْتَهَى وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sungguh, Ath-Thabaraniyy telah meriwayatkan secara marfu‘ (sampai kepada Nabi) bahwa, ‘Sesungguhnya Syari'atku datang atas tiga ratus enam puluh jalan; tidaklah seseorang menempuh satu jalan darinya kecuali ia selamat.’” Selesai. 


Masjidil Haram pernah dijejali 360 berhala oleh ‘Amr bin Luhai Al-Khuza’iyy. Dibabat habis oleh Rasulullah dan pasukan Islam pada momentum Fat-h Makkah. Angka 360 mungkin menjadikan sebagian orang paranoid. Padahal kesamaan dalam hal tertentu tidak selalu berarti kesamaan dalam semua hal itu. Nabi menyebut ada 360 jalan (tarekat) dalam Syari’at Islam bukan 360 jalan di luar Islam. Bedakan! 


Istilah tarekat yang dipakai Nabi tidak sama dengan istilah tarekat yang ma’ruf pada era khalaf hingga kini. Tarekat yang dimaksud Nabi ialah model keberislaman yang diturun-temurunkan dari Nabi oleh generasi ke generasi sejak masa para shahabat, tabi’in dan atba’ tabi’in hingga kini. Tarekat era khalaf bermakna sebatas protokoler dzikir dan rutinitas (wazhifah) amalan tilawah, doa, puasa, shalat saja.


Kenapa menyamakan angka 360 jalan dalam Islam dengan 360 berhala. Padahal Allah menggunakan bilangan 360 pula. Syaikh Dr. Safar Al-Hawaliyy menyitir hadits tentang perhatian Allah kepada taqdir sebanyak 360 kali setiap hari, 

إن الله خلق لوحاً محفوظاً من درة بيضاء، صفحاتها ياقوتة حمراء، قلمه نور، وكتابه نور، لله فيه كل يوم ستون وثلاثمائة لحظة، وعرضه ما بين السماء والأرض، ينظر فيه كل يوم ستين وثلاثمائة نظرة- يخلق ويرزق، ويميت ويحيي، ويعز ويذل، ويفعل ما يشاؤه

Setelah menelusuri jalur transmisi hadits ini yakni Ath-Thabaraniyy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan  Al-Baghawiyy yang diabadikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maka Syaikh Safar Al-Hawaliyy kemudian meyakinkan bahwa hadits ini statusnya marfu’ kepada Rasulullah walaupun dha’if (lemah). Ingat, hadits yang lemah sanadnya bukan berarti pasti konten/matannya palsu (maudhu’). [https://www.safaralhawali.com/main/533-3-1-الإيمان-باللوح-المحفوظ-.html]


Ternyata Syaikh Dr. Muhammad Shalih Al-Munajjid menemukan jalur riwayat lain hadits ini dengan matan sedikit berbeda yakni oleh ‘Abdurrazzaq Ash-Shan’aniyy dalam tafsirnya (2/314) dan Ath-Thabariyy dalam tafsirnya (16/489). [https://islamqa.info/ar/answers/182594/] Lihat syarah hadits ini dalam Faidh Al-Qadir karya Al-Munawiyy agar tidak salah paham. [https://www.islamweb.net/ar/library/content/304/3508/?idfrom=&idto=&start=].


Nabi hanya 1 orang, bagaimana bisa mengajarkan praktik keislaman yang berbeda-beda hingga 360 jalan? Sangat mungkin. Nabi kadang kala berbeda sikap untuk sebuah peristiwa. Di samping itu, Wahyu yang diujarkan Nabi baik berupa Al-Qur`an maupun As-Sunnah, sesuci dan sesakral apapun, bisa jadi dipahami berbeda oleh segolongan shahabat yang ini dan segolongan yang lain namun sama-sama benar karena multitafsir. 


360 pola Islam (atau keberislaman) bukan mustahil. Insiden perginya salah seorang shahabat dari rumah ke ladang untuk bekerja sebagai petani dengan absen dari pengajian Nabi yang dihadiri sejumlah besar shahabat, ternyata tidak disalahkan Nabi, ini salah satu tamtsil (permisalan) dari 360 tadi. Pernah pula, Rasulullah mendapati dua halaqah (lingkaran/kelompok) shahabat Nabi, satu berdzikir dan berdoa, satu berdiskusi hukum-hukum Islam, Nabi membenarkan keduanya namun Nabi menjatuhkan pilihan untuk duduk di halaqah yang kedua, ini juga salah satu tamtsil (permisalan) dari 360 tadi. 


Perbedaan bukan selalu permusuhan. Perselisihan tidak selalu pertikaian. Diskrepansi bukan pasti perpecahan. Divergensi tidak selalu persengketaan. Tidak perlu alergi dan antipati terhadap disimilaritas. Persatuan bukan berarti kesamaan dalam segala hal. Persatuan tidak tercabik-cabik hanya karena adanya heterogenitas. 


Pluralitas umat Islam berbeda dengan pluralisme yang bermakna sinkretisme. Allah tidak pernah menciptakan manusia satu model, pola, gaya, selera, alur, corak, patron, tipe. Sepanjang keberislaman tertentu yang sesuai dengan Islam maka itulah keislaman yang legal. Keberislaman tertentu yang tidak sesuai dengan Islam maka itulah bid’ah.


Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy mengupas narasi Imam Al-Ghazaliyy tentang 333 thariqah (varian keberislaman),

(وَفِي الْخَبَرِ: الْإِيمَانُ ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ وَثَلَاثُمِائَةِ طَرِيقَةٍ، مَنْ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالشَّهَادَةِ عَلَى طَرِيقٍ مِنْهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ) . 

(Dan dalam suatu riwayat disebutkan, Iman itu memiliki tiga ratus tiga puluh tiga jalan; barang siapa bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla dengan membawa persaksian atas salah satu jalan darinya, ia masuk Surga).

قَالَ الْعِرَاقِيُّ: رَوَاهُ ابْنُ شَاهِينَ وَالْلَالَكَائِيُّ فِي السُّنَّةِ، وَالطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ، مِنْ رِوَايَةِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: " الْإِيمَانُ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ شَرِيعَةً، فَمَنْ وَافَى شَرِيعَةً مِنْهَا أُدْخِلَ الْجَنَّةَ". وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: " ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثُونَ"، وَفِي إِسْنَادِهِ جَهَالَةٌ. اهـ .

Al-‘Iraqiyy berkata, Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dan Al-Lalika’iyy dalam kitab As-Sunnah, serta Ath-Thabaraniyy dan Al-Baihaqiyy dalam Asy-Syu‘ab, melalui riwayat Al-Mughirah bin ‘Abdurrahman bin ‘Ubaid, dari ayahnya, dari kakeknya, “Iman itu memiliki tiga ratus tiga puluh tiga Syari'at; maka barang siapa menunaikan salah satu Syari'at darinya, ia dimasukkan ke dalam Surga.” Ath-Thabaraniyy berkata, “Tiga ratus tiga puluh,” dan dalam sanadnya terdapat ketidakterkenalan perawi. Selesai.

قُلْتُ: وَهَذَا نَصُّ الْلَالَكَائِيِّ فِي كِتَابِ السُّنَّةِ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَشِيرٍ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا الْمِنْهَالُ بْنُ بَحْرٍ أَبُو سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي عُبَيْدٍ، وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: " الْإِيمَانُ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ شَرِيعَةً، مَنْ وَافَى اللَّهَ بِشَرِيعَةٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ". اهـ. .

Aku berkata, Dan ini adalah teks Al-Lalika’iyy dalam Kitab As-Sunnah, Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaid, telah mengabarkan kepada kami ‘Aliyy bin ‘Abdillah bin Basyir, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aliyy, telah menceritakan kepada kami Al-Minhal bin Bahr Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Abu Sinan, dari Al-Mughirah bin ‘Abdurrahman bin ‘Ubaid, ia berkata, Ayahku telah menceritakan kepadaku, dari kakekku ‘Ubaid, dan ia memiliki status sebagai sahabat, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Iman itu memiliki tiga ratus tiga puluh tiga Syari'at; barang siapa menghadap Allah dengan suatu Syari'at, ia masuk Surga.” Selesai.

https://www.islamweb.net/ar/library/content/411/3895/ Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam Majalah Al-Manar Volume 13 Edisi Dzul-Qa’dah 1328 H. menolak keras hadits Islam punya 360-an thariqah dengan dalih kisah ‘Abdullah bin Mas’ud,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syaithan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca firman Allah,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’.” [[QS. Al-An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya] [https://shamela.ws/book/6947/2342] Cerai-berai dari jalan-Nya bukan cerai-berai dalam jalan-Nya. Beda. Siapa saja yang tetap di jalan-Nya walaupun berbeda satu sama lain maka tidak disebut mengikuti jalan-jalan syaithan yang diilustrasikan Nabi tadi. Berbeda tidak selalu berselisih apalagi bermusuhan. Jadi, pendalilan hadits garis jalan Allah dalam hadits di atas untuk menghukumi variasi keberislaman umat Islam sebagai kesesatan adalah keliru. Cabang-cabang iman tetaplah bagian dari pohon iman. Benalu yang menempel di pohon maka itu bukanlah bagian dari pohon tersebut. Bedakan antara jalan-jalan yang di dalam agama Islam dengan jalan-jalan yang lain di luar agama Islam! Kita sama-sama sepakat iman bercabang-cabang padahal iman cuma satu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ -أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ- شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».

Abu Hurairah -raḍhiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Iman memiliki lebih dari tujuh puluhan -atau enam puluhan- cabang. Cabang yang paling utama ialah ucapan lā ilāha illallāh, sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu juga salah satu cabang iman." [Shahih Muslim no. 35]

Salafi RII Rodja Ihyaut Turots Yufid Firanda Syafiq Khalid Yazid Jawas Amir Abdat Utsaimin Bin Baz Albani Fauzan Riyadh Bajrey Oemar Mita Aa Gym Das’ad Latif Subhan Bawazier Nuzul Dzikry Abduh Tuasikal Erwandi Mubarok Bamualim Badrusalam Aris Munandar Sufyan Fuad Sofyan Chalid Ruray Mufy Hanif Andy Fahmi Najmi Umar Bakkar Musyaffa Addariny Amrullah Akandhita Ali Musri Semjan Abu Qatadah Elvi Syam Ammi Nur Baits Syahrul Fatwa Raehanul Bahraen Fariq Gasim Anuz Farhan Abu Furaihan Harits Abu Naufal Tanthawi

 

Comments